nasib anak jalanan di negri kita


Hari Anak Sedunia yang jatuh hari Kamis (20/11/08) seharusnya menjadi titik tolak untuk meningkatkan kepedulian sekaligus memperhatikan hak anak. Namun kenyataannya masih banyak anak Indonesia yang belum mendapat kehidupan dan pendidikan layak. Di usia sekolah mereka justru berkeliaran di jalan demi menghidupi keluarga.

Meski nada dan iramanya meleset, namun ketiga anak jalanan ini terus bersemangat menyanyikan sebuah lagu pop. Dengan bergembira mereka berupaya menghibur para pengguna jalan untuk sekedar mendapatkan uang receh. Bagi ketiganya, Hari Anak Sedunia yang dirayakan hari ini sama seperti hari biasa.

Mereka tidak memahami hari yang dipersembahkan untuk kepentingan hak anak di dunia. Bahkan hari ini mereka membolos demi bisa menghidupi keluarganya. Kerasnya kehidupan jalanan sedikit banyak telah mempengaruhi kehidupan mereka. Suradi, Husin dan Agi, kini tidak lagi memiliki cita-cita yang muluk layaknya anak-anak lain.

Ruang gerak anak jalanan dalam mencari uang kini semakin terbatas seiring dengan berbagai operasi yang digelar petugas keamanan. Dalam keterbatasan itu mereka tetap berupaya demi keluarga, tanpa memikirkan seperti apa masa depan mereka di kemudian hari. (Winduti Astuti dan Heru Desembri/Sup)
Untuk meminimalisir banyaknya anak usia sekolah yang ikut menjadi korban eksploitasi sebagai pekerja dibawah umur, perlu adanya kepedulian pemerintah kota (pemko) maupun pemerintah daerah (pemda).

Demikian diucapkan ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Sumatera Utara (Sumut), Zahrin Piliang kepada Waspada Online tadi sore.

“Dengan anggaran yang terbatas yang ada di KPAID Sumut, kami tak bisa melakukan berbagai program tersebut sendiri. Namun, dengan andil dan kepedulian Pemko dan Pemda akan sangat membantu mengurangi jumlah mereka,” harap Zahrin.

Dijelaskannya, beberapa pihak LSM yang memperhatikan nasib anak jalan ini juga telah melakukan berbagai tindakan. “Seperti mendampingi mereka dan bekerjasama dengan pemerintah untuk mengurangi jumlah mereka di jalanan,” ungkap Zahrin.

Namun, lanjut Zahrin, pihak pemerintah juga paling hanya merazia mereka, dan kemudian memberikan pendidikan dan pelatihan keterampilan selama tiga bulan. Hal ini menurutnya tidak cukup, paling tidak seharusnya satu tahun, dengan begitu mereka juga telah bisa melupakan untuk kembali turun ke jalan.

“Dengan waktu satu tahun itu mereka telah bisa memiliki kemampuan yang mapan untuk bekerja lebih profesional,” katanya.

Sebaiknya, lanjut Zahrin, pemerintah kota mengambil langkah yang lebih komprehensif. “Jadi, mereka tidak perlu terus-terusan merasakan hidup di jalanan yang begitu keras, mereka kan masih anak-anak. Mereka lebih layak untuk mendapatkan pendidikan dan bermain dengan umur tersebut,” pungkasnya.
(dat06/wol-mdn)

sumber :
indosiar.com
waspada.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: